147 kali dilihat

Eucalyptus Antivirus COVID-19?

Pada tanggal 8 Mei 2020, Kementerian Pertanian RI meluncurkan (launching) produk yang diklaim sebagai antivirus corona yang berbahan dasar Eucalyptus. Namun, tidak disebutkan secara rinci bahan dasar ini berasal dari spesies Eucalyptus yang mana. Produk ini sendiri berbentuk minyak atsiri (essential oil), roll on, inhaler, dan balsam.

Mengutip dari media informasi Kementerian Pertanian RI, “penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium biosafety level (BSL) 3 milik Balai Besar Penelitian Veteriner menunjukkan bahwa Eucalyptus dapat dimanfaatkan sebagai antivirus dengan efektifitas membunuh virus 80-100% tergantung jenis virus, termasuk jenis virus corona dan influenza H5N1”, dan ini menjadi harapan bagi masyarakat dalam mencegah infeksi virus yang diharapkan juga dapat mencegah virus SARS-CoV2 (COVID-19).

Eucalyptus sp. adalah spesies pohon anggota keluarga Myrtaceae yang memiliki lebih dari 700 spesies Eucalyptus dan tersebar di Australia, Indonesia bagian timur, dan Filipina. Jenis pohon ini termasuk jenis cepat tumbuh (fast-growing species) yang bermanfaat dengan hasil kayunya, sebagai bahan baku kertas, produksi madu (nektar), dan juga minyak atsiri.

Dari pencarian publikasi ilmiah, penggunaan Eucalyptus dalam bentuk minyak atsiri mengandung komponen antivirus (antiviral), anti bakteri (antimicrobial), dan anti jamur (antifungal). Senyawa kimia yang paling banyak terkandung di dalam minyak atsiri Eucalyptus adalah 1,8-cineole, banyak ditemukan di beberapa jenis Eucalyptus, seperti E. globulus, E. nicholii, E. terticornis, dan E. camaldulensis1. Daun dan kulit eukaliptus mengandung 1,8-cineole konsentrasi tinggi . Senyawa 1,8-cineole merupakan senyawa organik cair yang tidak berwarna dan beraroma sangat kuat.

Lebih lanjut, senyawa 1,8-cineole, atau yang dikenal dengan nama eucalyptol, adalah senyawa monoterpen yang sering dilaporkan memiliki kemampuan anti-inflamasi dan kemampuan antioksidan yang terbukti dapat berperan sebagai co-medication pada penyakit inflamasi saluran pernafasan seperti asma dan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Eucalyptol, berpotensi untuk menghambat infeksi corona virus COVID-19 dengan berperan sebagai penghambat replikasi COVID-192. Senyawa ini juga terkandung di minyak kayu putih, atau juga kandungannya disebut cajuputol. Penelitian terkait ini, lebih lanjut menurut Prof Hanny Wijaya dari IPB , memberikan prospek unggul dari khasiat cinole untuk mengatasi virus pneumonia, khususnya berkenaan dengan COVID-19.

Minyak atsiri Eucalyptus, secara spesifik hasil ekstraksi dari daun E. globulus, berkhasiat untuk menanggulangi penyakit tuberkulosis (TBC), asma, diabetes, disinfektan, antioksidan, dan antiseptik terutama untuk perawatan infeksi saluran pernapasan atas dan penyakit kulit tertentu3,4. Penggunaan minyak atsiri berbahan dasar E. globulus juga terbukti secara percobaan in vitro dapat efektif melawan virus H1N1 dan bakteri yang menyebabkan post-influenza pneumia dengan cara mencampurkannya dengan minyak atsiri yang berbahan dasar lain dengan konsentrasi tertentu5.

Berdasarkan beberapa informasi tersebut, sangat diperlukan penelitian lebih lanjut dalam pemanfaatan minyak atsiri dari jenis Eucalyptus ini sebagai salah satu solusi dalam penanggulangan dan pencegahan penyebaran COVID-192. Pemanfaatan jenis-jenis endemik Indonesia juga sangat perlu dikembangkan sebagai upaya penggalian potensi dan pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia.

Jenis-jenis Eucalyptus endemik Indonesia antara lain E. deglupta (Pulau Sulawesi), E. urophylla dan E. alba (Nusa Tenggara Timur), dan E. pellita (Papua Barat)6. Penelitian dan studi tentang pemanfaatan tanaman sebagai bahan dasar obat-obatan medis sangat perlu difokuskan di Indonesia agar nantinya penjelasan tentang manfaat tanaman obat tidak hanya berdasarkan “katanya”, tapi sudah berdasarkan penelitian yang empiris dan terbukti secara klinis.

Referensi:

  1. Sadlon, A. E. & Lamson, D. W. Immune-modifying and antimicrobial effects of eucalyptus oil and simple inhalation devices. Altern. Med. Rev. 15, 33–47 (2010).
  2. Sharma, A. D. & kaur, I. Molecular docking studies on Jensenone from eucalyptus essential oil as a potential inhibitor of COVID 19 corona virus infection. (2020) doi:10.20944/preprints202003.0455.v1.
  3. Song, A., Wang, Y. & Liu, Y. Study on the chemical constituents of the essential oil of the leaves of Eucalyptus globulus Labill from China. Asian J. Tradit. Med. 4, 134–140 (2009).
  4. Cermelli, C., Fabio, A., Fabio, G. & Quaglio, P. Effect of eucalyptus essential oil on respiratory bacteria and viruses. Curr. Microbiol. 56, 89–92 (2008).
  5. Brochot, A., Guilbot, A., Haddioui, L. & Roques, C. Antibacterial, antifungal, and antiviral effects of three essential oil blends. Microbiologyopen 6, (2017).
  6. R Core Team. Research Experiences on Eucalyptus in Indonesia – Irfan Budi Pramono. vol. II 1–11 http://www.fao.org/3/ac772e/ac772e09.htm (2016).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *