149 kali dilihat

Anak Muda, Pertanian, dan Teknologi

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Itu adalah sepotong bait dari sebuah lagu berjudul Kolam Susu yang dipopulerkan oleh Koes Plus, sebuah grup musik yang terkenal pada tahun 1970-an. Bait tersebut seperti ingin mengatakan bahwa betapa besar nikmat Tuhan yang diberikan kepada Indonesia dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimilikinya. Kekayaan ini dimiliki di atas dan di bawah tanah dan lautan Indonesia. Kekayaan yang dimiliki ini menjadi tantangan tersendiri untuk Indonesia agar mampu mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam dengan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Jika membahas kekayaan alam Indonesia, sulit rasanya hanya menuliskannya dalam secarik kertas, apalagi masalah pengelolaannya. Namun, kali ini coba kita fokus soal pertanian. Masalah pertanian ini cukup kompleks. Mulai dari pengelolaan lahan pertanian yakni kurangnya lahan pertanian yang akhirnya berdampak pada produktivitas, hingga menyoal tentang regenerasi petani Indonesia. Sejatinya ini adalah masalah klasik yang terus-menerus diwariskan dan belum ada solusi secara menyeluruh dalam penyelesaiannya.

Menurut data statistik, sampai Agustus 2019, pemuda yang aktif dalam bidang pertanian hanya sebesar 18,43% dari seluruh total pemuda di Indonesia dan didominasi oleh pemuda dengan pendidikan tidak tamat SD sebesar 50,92%. Hanya 3% dari lulusan perguruan tinggi yang terjun ke bidang pertanian.

Dari data statistik tersebut, dapat dikatakan minat pemuda dalam bidang pertanian, termasuk lulusan perguruan tinggi, masih cukup rendah. Hal ini tentu ada alasannya. Bekerja dalam bidang pertanian, atau lebih gampangnya menjadi petani, bukanlah pilihan yang bergengsi untuk para lulusan perguruan tinggi. Selain itu, paradigma terhadap petani cenderung negatif di masyarakat, karena identik dengan kemiskinan, yang mana ± 65% petani di Indonesia adalah petani gurem dengan lahan kurang dari 0,5 ha. Tentu masalah ini perlu segera dipikirkan solusinya.

Petani atau profesi apapun di bidang pertanian sudah harus naik kelas dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan membuat bisnis pertanian ini lebih menjanjikan yang secara langsung dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Pemuda dari lulusan perguruan tinggi sudah seharusnya mulai untuk aktif dalam bidang pertanian. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang sudah didapatkan selama mengenyam di perguruan tinggi, pemuda Indonesia diharapkan dapat menjadi kreator dan inovator dalam bidang pertanian. Pendanaan pasti menjadi masalah dalam hal eksekusi ide dan inovasi, namun hal ini bisa saja dapat diselesaikan dengan pemaksimalan program-program pemerintah, seperti BUMDes, KUR, dan lain-lain.

Pemerintah dengan segala programnya sudah sepatutnya jadi solusi. Namun, pertanyaan berikutnya adalah, apakah program-program itu sudah berjalan dengan semestinya? Apakah dana yang digelontorkan pemerintah untuk program tersebut sudah termaksimalkan? Kemudian masih banyak “apakah-apakah” yang lain yang sudah tentu harus kita jawab dengan melihat kondisi fakta di lapangan.

Jika semua berjalan dengan lancar, berjalan dengan semestinya, dan termaksimalkan, serta pemuda turut aktif dalam peningkatkan produktivitas hasil pertanian, termasuk pengolahan dan pemasarannya, maka bait lagu yang disebutkan di awal tadi akan bisa dilanjutkan seperti ini: “dan seluruh umat manusia hidup tenteram di dalamnya”. Mari terus berinovasi, bekerja keras, dan bekerja cerdas untuk kemajuan pertanian Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *