66 kali dilihat

Pengarusutamaan Ecosociopreneur dan Agribisnis oleh Pemuda Indonesia

Pada hari Kamis, 10 September 2020, IRDI telah menyelenggarakan kegiatan Internal Webinar untuk civitas IRDI-ers yang diikuti oleh 9 partisipan. Tema kegiatan ini adalah pengarusutamaan ecosociopreneur dan agribisnis oleh pemuda Indonesia, mengundang dua narasumber kondang yakni Sdri. Falasifah dan Sdr. Yusep Jalaludin.

Falasifah berkiprah dibidang bisnis berbasis produk kreatif ramah lingkungan dan menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam kegiatannya di kota Semarang. Beliau mengambil peluang dengan memperhatikan aspek sosial dan lingkungan serta melibatkan partisipasi lokal dan sumberdaya alam yang dapat bernilai tinggi jika dikelola dengan bijak. Kini ia juga tengah merintis bisnis green algae. Sementara itu, Yusep bergerak dalam industri pertanian hortikultura dan produk turunannya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Saat ini produk tersebut sudah dipasarkan hingga ke beberapa kota besar di Indonesia. Beliau merupakan pendiri Cityfarm yang berlokasi di Bogor dan aktif dalam kegiatan training urban farming dan pemberdayaan petani lokal.

Berbagai usaha yang dikerjakan oleh mereka, pada hakikatnya terdapat tiga aspek penting yang terdiri dari sosial (people), ekonomi (profit), dan lingkungan (planet), kemudian bersatu dalam diri para pemuda Indonesia yang selanjutnya dapat melakukan inovasi terhadap barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

Indonesia tidak kekurangan sumberdaya manusia kreatif, namun memiliki sumberdaya alam (SDA) yang sangat terbatas. Apabila kita bandingkan populasi Indonesia yang sangat besar, SDA kita diprediksi hanya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat saat ini dengan asumsi pola konsumsi yang sama dan terus meningkat dan tidak adanya pengelolaan bijak akan hal ini. Belum lagi permasalahan mindset masyarakat yang masih menerapkan prinsip ekonomi linier, padahal semestinya berbagai sumberdaya yang sudah kita ekstrak dari alam Indonesia perlu kita jaga eksistensinya dan jangan sampai menumpuk ditempat sampah pada akhirnya.

Dua narasumber yang diundang ini sudah, sedang, dan akan terus memaksimalkan potensi alam Indonesia dengan sebaik-baiknya dan mengakselerasi ekonomi kerakyatan untuk pembangunan berkelanjutan. Di tengah arus globalisasi dan aras teknologi masa kini, potensi penggunaan media sosial juga mereka tekankan sebagai sarana diseminasi informasi dan promosi kegiatan. 

Mereka mengemukakan bahwa sudah banyak hasil riset anak bangsa yang inovatif namun hanya berakhir diatas lembaran-lembaran kertas, skripsi, atau bahkan jurnal yang tidak dimanfaatkan. Padahal dengan banyak membaca dan menganalisis inovasi atau hasil penelitian yang terdahulu, serta melakukan observasi kepada masyarakat sekitar dan mengidentifikasi sumberdaya alam kita yang potensial, hal tersebut mampu menjawab permasalahan pengelolaan sumberdaya Indonesia. Apalagi diikuti dengan upaya interaktif dan kreatif untuk menciptakan suatu jasa (service) dan/atau luaran (output/ product) maka akan memberikan kontribusi nyata untuk bangsa.

Potensi Pembangunan Desa

Jika kita melihat pedesaan, di mana lingkungan dan kearifan lokal masih dapat kita temukan, pembangunan ekonomi desa melalui unit kegiatan Bumdesnya sebetulnya dapat ditingkatkan. Inovasi-inovasi anak bangsa yang menjalankan usahanya bersama masyarakat setempat dapat meningkatkan nilai tambah suatu produk atau jasa yang dikembangkan.

Banyak relung cakupan yang dapat dikembangkan dengan melibatkan kreativitas pemuda Indonesia. Contohnya ketahanan pangan pedesaan (pembuatan produk berbahan pangan lokal dan bercitarasa tinggi) yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat sekitar, tetapi dapat dijual ke daerah atau kota lainnya. Selain itu, potensi pariwisata kreatif pedesaan yang melibatkan skema “payment for environmental service” serta promosi via berbagai channel dapat meningkatkan ekonomi masyarakat desa sekaligus memproteksi sumberdaya lansekap pedesaan dengan baik.

Masih banyak sektor yang berpotensi untuk dikembangkan, dengan menjaga kualitas alam dan lingkungan, melibatkan partisipasi masyarakat lokal, dan peningkatan profit yang dapat meningkatkan pendapatan daerah; misalnya sektor produk kreatif, sektor peternakan, perikanan, agroforestri, teknologi pertanian, bahari dan kelautan, pendidikan dan literasi, kuliner nusantara dan sebagainya.

Integrasi di Kota

Jika kita melihat perkotaan, maka integrasi urban development dan pemanfaatan lahan harus dikelola dengan seksama dan dilakukan supervisi yang kuat. Regulasi tata ruang harus berjalan dengan baik dan perencanaan perkotaan harus di-design sebaik mungkin untuk mengantisipasi permasalahan perubahan iklim, sanitasi dan kepadatan penduduk.

Kota memiliki talenta sumberdaya manusia yang unggul ditopang dengan kekuatan anggaran yang tersedia dan mobilitas masyarakat yang lebih dinamis. Hal ini semestinya menjadi poin utama, yakni narasi pemanfaatan sumberdaya alam Indonesia yang bijaksana. Jangan sampai semua flow material dan roda ekonomi hanya tersentralisasi di perkotaan saja, tanpa mendukung daerah pedesaan atau pelosok lainnya. Pembangunan sentra green-urban farming dapat juga mengurangi permasalahan lingkungan perkotaan saat ini (urban heat island phenomenon).

Selain itu, inovasi integrasi ekonomi sirkular diyakini dapat memberikan potensi kerjasama pengelolaan SDA dengan pergerakan desa-kota-desa. Sumberdaya alam yang sudah disegregasi oleh masyarakat perkotaan (hasil konsumsi) dapat dikirimkan ke pedesaan atau daerah urban sekitar kota untuk manajemen re-design dan re-cycle material tersebut, sehingga memaksimalkan penggunaan sumberdaya dan meminimalisir sampah yang dihasilkan.

Berbagai data menyebutkan, contohnya, Jakarta sebagai ibukota menghasilkan sampah dengan kuantitas 7000 ton/hari. Indonesia secara keseluruhan setiap tahunnya menghasilkan jumlah total sampah 65 juta ton. Data terakhir dilansir dari laman website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menyebutkan pada 2019 saja sebesar 67.8 juta ton sampah sudah dihasilkan dan kini menjadi sampah belaka.

Tata Kelola SDM dan SDA

Maksud dari penjelasan diatas, adalah sangat bijak dan bagus bila kita mengelola SDA Indonesia saat ini (kehutanannya, pertaniannya, atau mineralnya dan sebagainya) tapi sangat miris jika semua material yang sudah dikonsumsi hanya berakhir di TPA saja.

Oleh karena itu, akan lebih utama lagi, apabila daya dukung terhadap sumberdaya lingkungan dan manajemen sumberdaya dapat ditingkatkan mulai dari sekarang. Agar kelak anak cucu kita tidak menjerit karena kekurangan sumberdaya kemudian hanya dapat melihat semua SDA yang dikelola dan telah digunakan menumpuk tak termanfaatkan dan dapat membahayakan ekosistem. Hal ini berlaku juga untuk manajemen tata kelola pangan dan maritim; jangan sampai Indonesia tidak mandiri pangan dan berdaulat akan hal tersebut. Sehingga, dibutuhkan keterlibatan dari semua pihak untuk mewujudkan cita-cita pemerataan pembangunan yang berkelanjutan.

IRDI melihat bahwa konektivitas antara pemuda Indonesia dan kondisi SDA saat ini perlu dilakukan suatu “bridging”. Yakni menyampaikan dan menggugah para generasi penerus bangsa saat ini, yang didominasi oleh milenial, untuk dapat memaksimalkan potensi keilmuan mereka secara holistik dan terintegrasi. Lebih lanjut mampu berkontribusi untuk Indonesia Resources Development-nya, menuju Indonesia berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *