168 kali dilihat

Sumberdaya Pariwisata Berkelanjutan dan Selaras Alam dalam Inter-Koneksi Ekonomi Sirkular (Circular Economy) dan Doughnut Economy

Oleh
Ade Brian Mustafa (adebrianmustafa@gmail.com)
Indonesian Resources Development Institute

Perkembangan teori manajemen lingkungan dunia saat ini sudah dan tengah mengupayakan aspek keberlanjutan (sustainability) sejak pertama kali digaungkan pada tahun 1970an-1980an untuk mengombinasikan upaya pembangunan dalam tiga aspek utama yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sebagaimana kita ketahui populasi masyarakat dunia semakin meningkat secara eksponensial dan sumberdaya alam semakin berkurang karena penggunaan/konsumsi secara masif dan eksploitatif. Budaya take-make-dispose (beli-pakai-buang) di Indonesia adalah masalah klasik dan laten tentang prinsip sumberdaya material dan persampahan di negeri ini.

Sejak kemerdekaan tahun 1945, Indonesia baru menerbitkan regulasi yang secara komprehensif mengatur tentang manajemen sampah dan persampahan pada tahun 2008, setelah sebelumnya terjadi tragedi “longsor” di TPA Leuwigajah, Jawa Barat beberapa tahun sebelumnya. Dapat kita imajinasikan, dengan meninjau jumlah data kependudukan Indonesia, sudah sebanyak apakah sampah yang seharusnya dapat menjadi sumberdaya (waste-to-resource) ini terbuang sia-sia, tidak termanfaatkan, dan malah membahayakan kehidupan.

Problematika sampah ini juga terjadi di banyak belahan dunia, dan sudah banyak terjadi akselerasi terhadap degradasi lingkungan dan keanekaragaman hayati, kesehatan hingga perubahan iklim. Berbagai upaya dan narasi, baik green economy, green growth, maupun green development sudah banyak mulai diperhatikan oleh para pemimpin dunia dalam dua dekade terakhir ini. Hingga akhirnya teori circular economy (ekonomi melingkar/sirkular) dan doughnut economy dikembangkan dan dianalisis lebih mendalam. Secara harfiah, circular economy ini didasarkan pada prinsip desain untuk mengeliminasi sampah dan polusi lingkungan dari suatu sistem, melalui upaya menjaga produk/barang konsumsi dan material yang digunakan dalam kesatuan “loop” sumberdaya secara kontinyu, serta dilandasi dengan upaya sistem manajemen yang restoratif dan regeneratif terhadap alam.

Melalui konsep tersebut, circular economy secara jelas mengupayakan pendekatan yang “endless possibilities to create a thriving economy”. Pada dasarnya, konsepsi sirkular ini merupakan cara baru umat manusia untuk mendesain, membuat produk, dan menggunakannya dalam suatu konstelasi “planetary boundaries” di mana berbagai elemen alam, dengan kuantitas dan kualitasnya dapat menopang kehidupan di bumi ini secara berkelanjutan. Isu lingkungan seringkali terkait dengan aktivitas teknologi: adanya limbah dan polusi merupakan hasil dari desain yang tidak sesuai.

Menurut Sørensen dan Jørgen (2020) teori circular economy menyarankan pendekatan berorientasi bisnis dan solusi untuk masalah keberlanjutan. Hal ini mengacu pada produksi dan konsumsi proses yang membatasi penggunaan sumber daya (non-renewable) dan menghasilkan hampir tidak ada limbah; sisa-sisa produksi dan konsumsi daur ulang.

Lebih lanjut, Ellen MacArthur Foundation, dalam analisis Wiesmeth (2021) menunjuk ekonomi sirkular pada berbagai “aliran pemikiran”, yang telah berkontribusi “untuk menyempurnakan dan mengembangkan konsep ekonomi sirkular”. Di antaranya, mengikuti karakterisasi dalam Ellen MacArthur Foundation, adalah konsep yang meliputi “cradle to cradle” dengan filosofi desain khusus, suatu upaya memahami metabolisme biologis alam sebagai model untuk metabolisme teknis, dan adalanya “Kinerja-Ekonomi” dengan sistem skema loop tertutupnya, yang memiliki pendekatan proses produksi dengan tujuan perpanjangan umur suatu produk, kegiatan rekondisi (daur ulang), dan pencegahan limbah atau sampah, dan fokusnya pada penjualan jasa, bukan produk, dalam pandangan prinsip ekonomi berbagi. Ada juga terkait konsep “Biomimikri” yang didasarkan pada ide terbaik dari alam, dan meniru ide-ide ini untuk memecahkan masalah yang dialami manusia, dan, terakhir, kerangka “ekologi industri” adalah “suatu studi tentang aliran material dan energi melalui sistem industri”.

Jutaan orang masih kekurangan kebutuhan pokok, hidup setiap hari dengan kelaparan, buta huruf, rasa tidak aman, dan tidak bersuara. Pada saat yang sama, tekanan kolektif umat manusia di planet ini telah melampaui setidaknya empat batas planet: untuk perubahan iklim, konversi lahan, penggunaan pupuk, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dengan kata lain, ekonomi global saat ini sangat memecah belah -terbelah dengan ketidaksetaraan yang ekstrim- dan juga merosot, menyusuri dunia kehidupan tempat segala sesuatu bergantung. Untuk mengubah ekonomi yang memecah belah saat ini, kita perlu menciptakan ekonomi yang distributif berdasarkan desain – ekonomi yang berbagi nilai jauh lebih adil di antara semua yang membantu menghasilkannya. Dan berkat kemunculan teknologi jaringan -terutama dalam komunikasi digital dan pembangkit energi terbarukan- kita memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mewujudkannya daripada generasi mana pun sebelum kita (Raworth, 2017).

Selain itu, jika kita mencermati teori doughnut economy, keselarasan menjaga material sumberdaya secara circular, perlu menjaga ecological ceiling (atap-batas ekologi) suatu wilayah secara perspektif bio-geo-fisika-kimia dalam range yang mendukung, seperti konversi lahan, punahnya biodiversitas, asidifikasi air laut, polusi udara, perairan air tawar dan lainnya. Selanjutnya, interaksi tersebut lebih lanjut berinteraksi dengan faktor social foundation seperti kesehatan, pangan, energi, kesetaraan gender, pendidikan, ketersediaan lahan (housing), aspirasi pemerintah-masyarakat dan lain sebagainya. Yang mana dalam hal tersebut terdapat kesinambungan regeneratif dan distributif ekonomi yang terjadi dan ruang lingkup ekosistem/tempat yang aman antara kehidupan dan mobilitas manusia dengan alam (Raworth, 2018).

Dalam praktiknya, batasan doughnut economy dapat meliputi suatu eco-region lanskap pedesaan, perkotaan, hingga zonasi administrasi yang lebih besar. Sementara itu, circular economy mengintegrasikan sektor-sektor industri (produk) dan pengelola sumberdaya (material) secara terpadu, untuk re-design suatu business model system secara berkelanjutan.

Gambar 1. Konsep Doughnut Economy: mempertimbangkan batasan ekologi dan sosial berkelanjutan
Sumber: https://doughnuteconomics.org/about-doughnut-economics

Dan jika suatu konsepsi circular economy dan doughnut economy ini dikombinasikan dengan kerangka zero waste, yang mana semua barang pasca konsumsi dapat dipergunakan kembali dengan cara/mekanisme tertentu, sehingga akan mengurangi sampah di TPA (landfill), maka upaya sustainable consumption dan waste recovery dari kolaborasi ide tersebut akan menghasilkan terobosan baru pengelolaan sumberdaya dan persampahan secara arif dan bijaksana. Lebih lanjut, aspek ini dapat digunakan di berbagai sektor ekonomi salah satunya adalah pariwisata. Tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam sektor tersebut, sampah adalah suatu output nyata dan dalam jumlah besar dihasilkan dari berbagai kegiatan post-konsumsi masyarakat. Ketika aspek “behaviour change” masih terbatas, secara “domino effects” semakin banyak wisatawan yang datang, maka semakin banyak keuntungan ekonomi yang diperoleh, namun semakin meningkat drastis juga dampak lingkungan (sampah) yang dihasilkan.

Jika hal itu tidak dikelola dengan hati-hati, akan merugikan industri pariwisata itu sendiri sehingga mereka harus membayar biaya lingkungan atau perbaikan lingkungan yang cukup besar untuk mengatasi masalah yang kemungkinan dapat terjadi. Sehingga mitigasi dan adaptasi sektor pariwisata dalam pengelolaan sampah (material) secara berkelanjutan harus menjadi paradigma utama dan prioritas yang perlu dilaksanakan. Semakin menunda upaya modifikasi business model circular- doughnut ini, semakin besar risiko yang harus dihadapi oleh para pelaku industri pariwisata, khususnya mereka yang rentan (prone and not resilient) terhadap hal ini.

Dilansir dari data Kementerian Pariwisata, mencatat pada 2014 jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 9,4 juta. Pada 2015 tercatat 10,4 juta. Tahun 2016 tercatat 11,5 juta. Tahun 2017 naik cukup signifikan menjadi 14,03 juta. Dan tahun 2018 tercatat sebanyak 15,8 juta. Masih dari sumber yang sama, per Januari 2019 tercatat 1.158.162 tamu mancanegara berkunjung ke Indonesia. Data tersebut belum termasuk jumlah turis domestik dalam negeri. Hal ini menjadi bukti bahwa tingkat ekonomi pariwisata di Indonesia sangat besar. Namun jika kita memperhatikan jumlah sampah yang dihasilkan maka terjadi ketimpangan. Dengan meningkatnya wisatawan maka jumlah sampah juga akan semakin meningkat. Secara kumulatif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pada tahun 2019 jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia adalah sebesar 67.8 juta ton, meningkat dari tahun 2018 yang sebesar 65.7 juta ton.

Mengingat begitu besarnya dampak yang dihasilkan oleh timbunan sampah yang makin menggunung tersebut, maka kita perlu melakukan penanggulangan sedini mungkin. Cara efektif mengatasi sampah dengan mengetahui faktor penyebab penimbunan sampah. Kita perlu mengetahui faktor penyebab penimbunan sampah tersebut agar kita mengetahui cara yang paling efektif untuk menanggulangi masalah penimbunan sampah tersebut.

Ada beberapa faktor mendasar yang menyebabkan sampah-sampah pada tempat pembuangan sampah menjadi makin menimbun setiap harinya. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kurangnya kesadaran masyarakat setempat dan wisatawan dalam membedakan dan mengelompokkan jenis-jenis sampah dalam pembuangannya. Ketidakmampuan dalam membedakan pembuangan sampah menurut jenis dan macamnya dapat membuat proses penguraian sampah menjadi terhambat. Memulai mencegah faktor penyebab penimbunan sampah tersebut mulai dari wisatawan dengan cara membedakan tempat sampah berdasarkan sifatnya. Setidaknya dengan begitu petugas kebersihan tidak akan kesulitan untuk memisahkan sampah-sampah tersebut.

Transisi dari pariwisata linier ke sirkular saat ini jelas merupakan mekanisme untuk konsep keberlanjutan. Lebih lanjut, biaya untuk pengelola pariwisata yang mengintegrasikan konsep circular economy tidak akan selalu meningkat. Jika transisi menuju circular economy dilakukan dengan bijak, biaya tidak serta merta meningkat. Selain itu, bahkan jika biaya sedikit meningkat, tidak diragukan lagi sektor pariwisata akan diimbangi dengan memperoleh omset yang lebih tinggi yang akan dapat dilakukan perusahaan (karena terjadi perbedaan, mereka dapat menetapkan harga yang lebih tinggi dan, sebagai tambahan, total permintaan barang dan jasa sejalan dengan peningkatan circular economy). Secara jangka panjang, dalam konsep pesaing sektor pariwisata, mereka akan beradaptasi untuk juga mengikuti pariwisata berbasis circular economy, sehingga keseimbangan ekonomi akan terjadi.

Menurut Sørensen dan Jørgen (2020), industri pariwisata akan menghadapi tantangan dan perubahan dalam jenis pariwisata yang ada dan yang baru muncul. Perubahan tersebut diperlukan dan harus didorong oleh hubungan simbiosis antara wisatawan, pelaku publik, dan industri, dalam sistem transportasi, destinasi, dan negara asal wisatawan. Sektor destinasi dan industri yang terbukti tidak mampu beradaptasi dengan praktik pariwisata ekonomi sirkular mungkin kalah dalam perebutan pangsa pasar pariwisata berorientasi ekonomi sirkular.

Sektor pariwisata adalah penghasil lapangan kerja dan ekonomi, tetapi tanpa sistem yang tepat, pariwisata dapat mengonsumsi energi, air, dan plastik dalam jumlah besar yang menurunkan kualitas lingkungan tujuan pesisir dan ekosistem serta memengaruhi kehidupan penduduk. Menurut Lenzen et al. (2018) pariwisata memiliki berbagai dampak lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan sumber daya dan produksi limbah. Perjalanan berkontribusi terhadap emisi CO2, dan wisatawan sering kali menuntut fasilitas mewah dan pengalaman intensif sumber daya.

Perkiraan menunjukkan bahwa pariwisata bertanggung jawab atas 8% emisi CO2 secara global, dimana 72% di antaranya berasal dari pembakaran bahan bakar dan perubahan penggunaan lahan. Selain itu, Manniche et al. (2017) mengemukakan bahwa sektor pariwisata biasanya bergantung pada sumber daya yang murah dan mudah diakses, meninggalkan limbah padat, berkontribusi pada air limbah, dan menyebabkan masalah lingkungan lainnya. Ada juga kebutuhan mendesak untuk mengeksplorasi bagaimana konsep ekonomi sirkuler, sumber daya modal alam dan ketahanan, baik secara individu maupun kolektif, dapat memberikan kontribusi teoritis untuk memahami konsep yang keberlanjutan (Jones dan Martin, 2019).

Gambar 2. Circular Economy, Persampahan dan Pariwisata Berkelanjutan
Sumber: https://ecobnb.com/blog/2019/11/circular-economy-and-tourism-the-ecobnbs-guide/; https://diahsastri.com/2014/01/28/sustainable-tourism-12-aims-for-sustainable-tourism/

Pariwisata berkelanjutan adalah upaya mengurangi dampak negatif kegiatan pariwisata terhadap lingkungan, masyarakat dan ekonomi untuk mencapai keberlanjutan secara ekologis, layak secara ekonomi, serta berkeadilan secara etis dan sosial. Pengembangan dan pengelolaan pariwisata akan menghadapi banyak tantangan terkait keberlanjutan yang signifikan bagi pembuat kebijakan dan perencana. Padahal, tantangan pariwisata berkelanjutan adalah mengurangi dampak negatif dengan meningkatkan manfaat pariwisata ke arah yang benar. Misalnya, industri yang menguntungkan secara ekonomi dan berkelanjutan secara ekologis dapat memberikan pengalaman yang memuaskan bagi pengunjung dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal. Tantangan mendesak lainnya mungkin termasuk konsumsi energi yang tinggi, limbah makanan, pengelolaan limbah secara keseluruhan, lingkungan bisnis yang lemah (terutama di negara berkembang), kekurangan tenaga kerja terampil, akses keuangan yang terbatas, dan tingkat investasi yang rendah.

Perhatian khusus pada hubungan antara aktivitas wisatawan dan alam harus dilakukan untuk mengadopsi strategi operasional dalam semangat harmoni dan menghormati pariwisata hijau. Pertama, ekowisata dapat memainkan peran penting dalam pertumbuhan hijau bagi negara-negara berkembang dengan kekayaan alam yang signifikan, karena kegiatan ini biasanya tidak memerlukan pengeluaran modal dan investasi yang besar. Ini juga dapat terhubung dengan komunitas lokal yang dapat memimpin kegiatan pariwisata dan operasi pelestarian ekosistem.

Kedua, pariwisata pedesaan menekankan kegiatan yang sehat dan kehidupan yang diekspresikan kesejahteraan dalam kenikmatan udara bersih, air tawar, lanskap, budaya dan tradisi. Dengan demikian, pariwisata pedesaan memiliki kesamaan dengan ekowisata tetapi dengan daya tarik utama terhadap lanskap budaya dan yang dikelola secara tradisional. Wisata pedesaan yang ideal harus mendorong kegiatan kreatif dan praktik hijau dalam membuat pertanian berkelanjutan sesuai dengan pengaturan sejarah dan alam.

Ketiga, pariwisata budaya (heritage), warisan alam dan budaya harus diperhatikan sebagai basis pariwisata berkelanjutan. Warisan alam meliputi vegetasi, satwa liar, fenomena geologi dan hidrologi, serta kejadian alam seperti kejadian iklim, astrologi dan vulkanik. Demikian pula, warisan budaya mencakup budaya yang hidup. Keempat, pariwisata komunitas, konsep komunitas dapat diterapkan pada pariwisata. Dalam pariwisata komunitas, komunitas lokal bertanggung jawab untuk mengembangkan inisiatif dan mengatur rencana perjalanan kegiatan pariwisata (Pan et al. 2018).

Gambar 3. Salah satu potensi alam berbasis agro-maritim Indonesia (Lokasi: Sulawesi)
Sumber: https://www.pesonaindo.com/tempat-wisata-alam-di-sulawesi

Model bisnis baru dan circular economy diperlukan untuk mengubah paradigma pariwisata beroperasi dan memungkinkan bisnis dan destinasi menjadi berkelanjutan. Circular economy adalah ekonomi yang menggunakan sumberdaya secara efisien dan memaksimalkan nilainya, dengan nilai yang tersisa di akhir masa manfaatnya akan didaur ulang atau digunakan kembali dengan cara mengurangi limbah. Untuk memenuhi target ini, semua pihak yang terlibat perlu mengambil arah yang sama.

Oleh karena itu, circular economy menjadi sangat penting, karena teori ini mengusulkan model produksi dengan nol emisi/limbah melalui penciptaan proses yang sirkular (circular approach) dan inklusif sehingga dapat mengarah pada penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, meningkatkan efisiensi industri pariwisata dan mencapai pembangunan sektor yang berkelanjutan. Di satu sisi, esensi dari doughnut economy adalah konsep social foundation terkait kesejahteraan yang mana setiap individu harus mendapatkan kesempatan ekonomi yang sama dan batasan ekologi (ecological ceiling) dari planet bumi yang tidak boleh kita (individu) lampaui. Di antara batasan ini adalah zonasi “safe and just space for all”.

Pengelolaan sumberdaya yang memadai dan berkelanjutan merupakan elemen kunci dari kebijakan pariwisata saat ini dan masa depan, termasuk pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Manajemen sumberdaya alam dan lingkungan perlu dengan bijak memperhatikan aspek keberlanjutan, melalui kombinasi pendekatan circular economy dan doughnut economy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *